UIN Walisongo Go International: Dosen Pendidikan Matematika Latih Guru di Malaysia dalam Pemanfaatan AI

Pahang, Malaysia – Tim dosen Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, yang merupakan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia, melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional di SMK Pusat Penyelidikan Pertanian Tun Razak, Jerantut, Pahang, Malaysia, pada 29–30 September 2026.

Kegiatan berjudul “Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pembelajaran Matematika: Pelatihan Guru Sekolah Menengah untuk Penggunaan yang Reflektif dan Beretika” ini merupakan bagian dari komitmen UIN Walisongo dalam memperluas kontribusi perguruan tinggi keagamaan Islam di tingkat internasional, khususnya melalui penguatan kompetensi pendidik dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam pembelajaran. Tim pengabdian dipimpin oleh Ayus Riana Isnawati, M.Sc., bersama Dr. Lulu’ Choirun Nisa, M.Pd., serta melibatkan mahasiswa Rohmatul Husna. Pelatihan ini diikuti oleh 38 guru dari total 55 guru SMK Pusat Penyelidikan Pertanian Tun Razak yang berasal dari berbagai bidang mata pelajaran.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari kepala sekolah (principal) dan doa bersama. Kehadiran tim UIN Walisongo mendapat sambutan hangat dan apresiasi dari pihak sekolah. Salah satu perwakilan guru mengungkapkan bahwa “kegiatan ini merupakan kunjungan pertama dari Indonesia sekaligus kegiatan pengabdian kepada masyarakat pertama yang diselenggarakan di sekolah tersebut”.
 
Pihak sekolah juga menyampaikan bahwa materi mengenai pemanfaatan AI secara reflektif dan beretika belum pernah mereka peroleh dalam pelatihan sebelumnya. Oleh karena itu, kegiatan ini dinilai memberikan pengalaman dan pengetahuan baru yang sangat membantu para guru dalam memahami penggunaan teknologi AI secara tepat, inovatif, dan bertanggung jawab dalam pembelajaran.

Selama dua hari, pelatihan dilaksanakan melalui tiga sesi utama dengan tiga pemateri, yakni Foundation and Ethics of AI in Learning, The Art of Prompting, serta Using Teachy AI for Teaching and Learning. Sesi pertama membahas dasar-dasar kecerdasan buatan, peluang pemanfaatannya dalam pendidikan, serta prinsip etika penggunaan AI, termasuk pentingnya menjaga keamanan data siswa dan memastikan keakuratan informasi. Sesi kedua berfokus pada keterampilan menyusun prompt atau instruksi yang efektif agar teknologi AI dapat menghasilkan bahan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Sementara itu, sesi ketiga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan pemanfaatan Teachy AI dalam merancang dan mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih inovatif dan interaktif. Berdasarkan hasil angket awal, banyak guru telah mengenal dan menggunakan aplikasi AI seperti ChatGPT dan Gemini. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kebiasaan memeriksa ketepatan hasil AI serta memperhatikan aspek etika dan perlindungan data siswa

Ketua tim pengabdian, Ayus Riana Isnawati, M.Sc., menegaskan pentingnya menempatkan AI sebagai teknologi pendukung yang tetap memerlukan pertimbangan kritis dan tanggung jawab profesional guru. “Banyak guru sudah memakai AI, tetapi jarang memeriksa hasilnya. Lewat pelatihan ini, kami ingin guru terbiasa bertanya: jawaban AI ini benar atau tidak, cocok atau tidak untuk siswa saya, dan apakah cara saya memakainya sudah aman dan adil. AI boleh cepat, tetapi gurulah yang tetap bertanggung jawab atas apa yang sampai ke siswa,” ujar Ayus Riana Isnawati, M.Sc. Salah satu praktik menarik dalam pelatihan ini adalah kegiatan analisis kesalahan AI dalam menyelesaikan soal matematika. Tim pengabdian menyajikan contoh penyelesaian soal aljabar yang sengaja dibuat keliru oleh AI. Para guru kemudian diminta mengidentifikasi, menganalisis, dan memperbaiki kesalahan tersebut.

Melalui pendekatan ini, peserta diajak memahami bahwa kecerdasan buatan tidak selalu menghasilkan informasi yang benar. Oleh karena itu, guru perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, melakukan verifikasi, serta memastikan kesesuaian materi dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik sebelum digunakan dalam pembelajaran. Ayus Riana Isnawati, M.Sc., menekankan bahwa kehadiran AI tidak boleh menggeser peran utama guru dalam proses pendidikan. “Pesan yang kami bawa sederhana: AI adalah asisten, bukan pengganti guru. Begitu bahan buatan AI diberikan kepada siswa, bahan itu menjadi tanggung jawab guru,” tegasnya.
 
Pihak sekolah memberikan apresiasi atas pelaksanaan pengabdian internasional tersebut. Para guru menilai bahwa materi yang disampaikan sangat relevan dengan perkembangan teknologi pendidikan dan memberikan manfaat langsung bagi peningkatan kompetensi mereka. Selain memperkenalkan berbagai aplikasi AI, pelatihan ini juga membangun kesadaran mengenai pentingnya penggunaan teknologi secara aman, reflektif, dan beretika. Kesan positif juga disampaikan oleh peserta pelatihan. Yanti, salah satu guru peserta, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada tim pengabdian: “Big thanks to Dr. Lulu and team for the awesome AI workshop! Got so many practical, hands-on tips for teaching. Love how it brought together ethics, innovation, and collaboration. Really helpful and super inspiring!”.

Sementara itu, Dr. Lulu’ Choirun Nisa, M.Pd., selaku anggota tim pengabdian, turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pihak SMK Pusat Penyelidikan Pertanian Tun Razak atas sambutan hangat serta kesempatan yang diberikan kepada tim UIN Walisongo selama pelaksanaan kegiatan. Ia juga berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat hubungan kelembagaan dan membuka peluang kerja sama berkelanjutan antara kedua institusi, khususnya dalam pengembangan inovasi pembelajaran berbasis kecerdasan buatan.’
 
Tim pengabdian juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Salbiyah, Wakil Kepala Sekolah SMK Pusat Penyelidikan Pertanian Tun Razak, yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan serta membantu komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah Malaysia, sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar. Pelaksanaan pelatihan ini menunjukkan bahwa integrasi AI dalam pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan teknologi, tetapi juga perlu memperhatikan aspek pedagogis, etika, dan tanggung jawab profesional. Guru memiliki peran penting dalam memastikan bahwa teknologi digunakan secara tepat untuk mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Rangkaian kegiatan pengabdian internasional diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan dari kedua belah pihak sebagai simbol persahabatan, apresiasi, dan penguatan hubungan kerja sama antara UIN Walisongo Semarang dan SMK Pusat Penyelidikan Pertanian Tun Razak.
 
Pelaksanaan pengabdian internasional ini sekaligus memperlihatkan peran strategis Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di bawah Kementerian Agama RI dalam mengembangkan inovasi pendidikan serta memperluas jejaring kerja sama akademik lintas negara. Melalui kegiatan tersebut, UIN Walisongo Semarang terus memperkuat kontribusinya dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang unggul, kolaboratif, dan berdampak. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata pengabdian perguruan tinggi dalam mendukung transformasi pendidikan melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan secara bijak, inovatif, dan bertanggung jawab, sekaligus memperkuat kiprah PTKIN Indonesia di tingkat internasional.
 

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *